Terdampar di Vladivostok

21December 2015
by PERMIRA RUSIA

Oleh: Intan Gledis Della Enosinsia

Mahasiswi Far Eastern Federal University,Vladivostok

Masih ingat betul saat salah seorang teman saya di Jerman menunjukkan kartu namanya yang ditulis dalam bahasa Jerman dan bahasa Rusia. Diskusi tentang bahasa dan seringnya dia pergi ke Rusia karena tuntutan pekerjaan membuat dia dengan percaya diri bisa membaca huruf sirilik dan menantang saya untuk membaca kartu namanya. Disitulah akhirnya muncul statement dari saya kalau saya tidak akan mau belajar bahasa Rusia karena dialeknya yang menurut saya jelek dan karena saya tidak ingin pergi ke Rusia. Lalu dengan santainya teman saya berkata, “never say never” dan suatu hari nanti pasti saya akan ke Rusia, entah dengan alasan apapun itu.

Karena suatu alasan, saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan akhirnya membuat orang tua saya kecewa karena keputusan saya tersebut. Awal setelah kepulangan, mereka masih membiarkan saya menikmati hari-hari menjadi seorang pengangguran, yang kesehariannya hanya diisi dengan menjaga dan bermain dengan adik saya. Hingga pada suatu hari orang tua saya menanyakan tentang apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Mereka ingin saya kembali belajar di Jerman. Saya mau saja kembali kesana, tapi saya tidak berjanji akan bisa berkuliah disana dengan alasan tertentu. Meski dengan berat hati, akhirnya orang tua saya menerima alasan tersebut. Hingga akhirnya mereka menawarkan dua pilihan untuk melanjutkan kuliah lagi atau ikut membantu usaha keluarga.

Demi menghindari pilihan kedua, saya rajin mencari informasi tentang kuliah di dalam dan luar negeri. Memang saat itu saya masih bisa untuk kuliah di Indonesia, dimana saat itu adalah kesempatan terakhir saya untuk mengikuti ujian bersama masuk perguruan tinggi negeri. Tapi melihat sudah dua tahun tidak pernah membuka buku pelajaran, rasanya akan sulit mengikuti ujian yang akan diadakan dalam dua bulan lagi tersebut.

Sebenarnya, saya bisa kembali ke Jerman dan mengambil Ausbildung sebagai seorang perawat. Meski tidak menjadi Dokter, tapi profesi Perawat masih sedikit nyambung dalam pandangan saya. Hal tersebut juga telah saya sampaikan kepada orangtua dan mereka menyetujuinya. Namun, restu tersebut tak membuat saya berhenti mencari informasi lain tentang kuliah di luar negeri. Hingga sampailah saya membaca iklan tentang kuliah di Rusia. Setelah membaca informasinya, saya langsung segera mendaftar di program studi kedokteran. Bagi saya, tidak ada yang sia-sia, jikalau tidak diterima Rusia, Jerman sudah menunggu. So, It’s nothing to lose.

Saat awal mendaftar, banyak sekali pilihan universitas yang harus saya kenali terelebih dahulu, mengingat pengetahuan saya sangat minim tentang Rusia dikarenakan dari awal tidak pernah ada niat untuk kuliah disana. Mendengar nama Rusia, kota yang terpikir hanya Moskow dan St. Petersburg. Tapi saya pikir memilih salah satu dari dua kota tersebut sudah umum, jadi saya memutuskan untuk tidak memilih dua kota tersebut. Namun, saya teringat kalau Forum Internasional APEC 2012 di selenggarakan di kota Vladivostok, Rusia. Dengan segala pertimbangannya, saya memilih kota tersebut dan mendaftar di universitas terbaik dan sekaligus menjadi lokasi pelaksanaan APEC 2012, yaitu Far Eastern Federal University.

Seminggu setelah mendaftar, saya menerima sebuah email yang menyatakan kalau saya diterima. Bingung harus bagaimana, harus di ambil atau tidak. Haruskah saya kembali ke Jerman dengan segala kelebihannya, atau memilih Rusia dengan segala keterbatasan pengetahuan saya tentangnya. Saya benar-benar buta tentang Rusia dan terlalu banyak pertanyaan di benak saya. Tapi, sepertinya langit mendengar dan mencatat apa yang dikatakan teman saya waktu itu di Jerman dan akhirnya disinilah saya sekarang, terdampar di ujung timur Rusia, Kota Vladivostok. .

Kalau dipikir-pikir sampai sekarang-pun saya masih tidak percaya kalau saat ini saya sedang berada disini. Kota pelabuhan yang berada nun jauh di Timur Rusia, dimana negara ini bahkan tidak masuk dalam daftar Negara yang ingin saya kunjungi dalam hidup saya. Apalagi Vladivostok, kalau bukan karena menjadi tuan rumah APEC mungkin saya tidak akan pernah tau. Saya selalu mengatakan kalau saya terdampar. Karena meskipun saya diterima di jurusan yang saya cita-citakan sejak di sekolah dasar, saya masih tetap merasa bahwa this place where I live it now is not where I belong.

Hingga pada akhirnya saya menyadari satu hal, bahwa Tuhan tidak akan sembarangan mengirimkan umatnya kesuatu tempat tanpa alasan. Tuhan telah menuliskan dalam buku takdir saya untuk singgah sebentar dan belajar di Rusia. Memang, tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk belajar dan sebagai seorang mahasiswi yang sudah menghabiskan waktu selama dua tahun tidak memulai kuliah S1, sebaiknya memilih prodi yang membutuhkan waktu belajar lebih singkat. Tapi saya tetap pada pilihan saya untuk menjadi seorang dokter. Saya tidak begitu memikirkan tentang umur berapa saat saya akan lulus nanti. Karena bertambah umur itu pasti, so I can do nothing about that. Pada dasarnya-pun hidup memang sebuah pilihan. Dan saya memilih untuk meninggalkan zona nyaman dan berusaha mewujudkan mimpi saya.  Selama kita bisa menggapai apa yang kita cita-citakan, kadang kita memang harus berkorban, bukan?

Mengutip dari salah satu novel yang di tulis oleh Andrea Hirata, yang pada intinya kalau bisa bertahan hidup di Rusia akan bisa bertahan hidup dimanapun di dunia. Seperti musim dinginnya yang super dingin, watak dinginnya orang Rusia, susahnya bahasa Rusia, dan dengan masih adanya pihak yang skeptis terhadap Rusia di Indonesia, benar-benar menjadi tantagan tersendiri untuk saya. Yang berarti saya tidak boleh dikalahkan oleh keadaan. Dan dibandingkan dengan kata “terdampar”, sekarang saya memilih kata “rezeki” untuk menggambarkan apa yang saya telah saya lalui. Karena di Rusia, khususnya kota Vladivostok telah memberikan cerita baru dalam lembaran hidup saya. Karena disinilah saya berkesempatan untuk menimba ilmu demi cita-cita saya dan meninggalkan zona nyaman yang akhirnya membuat saya mampu belajar banyak hal. Karena disinilah hidup saya sepertinya bernar-benar baru dimulai.

Memutuskan untuk belajar selama tujuh tahun kedepan, mengambil segala resiko dan  menghabiskan masa muda saya untuk ini adalah keputusan yang tak akan saya sesali. Saya tidak akan membuat orang-orang yang saya cintai kecewa lagi. Satu ungkapan yang akan terus saya ingat, dan untuk kalian juga pemuda Indonesia adalah If you don’t sacrifice for what you want, what you want will be the sacrifice.

Berita dan Artikel, Pelajar Pejuang

Leave a Reply