Belajar Seni Diplomasi dari Djauhari Oratmangun

20February 2016
by PERMIRA RUSIA

oleh: Adri Arlan Sinaga

Sosok yang senang bercengkrama dan easy going

Melihat dengan mata kepala sendiri sosok piawai nan mahir dalam melakukan sesuatu adalah sebuah pelajaran berharga. Begitu pula halnya dengan saya yang pada  tahun 2011-2014  menuntut ilmu  di Mother Russia, tepatnya di kota Moskow. Sosok Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Belarus diemban oleh Pak Djauhari Oratmangun. Pak Jo (Panggilan Akrab dari Pak Djauhari) bukanlah tipikal orang yang sulit ditemui. Dimanapun dan kapanpun kita berkunjung ke Kedutaan Besar RI (KBRI) Moskow, pasti mendengar sapaan akrab dari beliau. Obrolan mengenai banyak hal, tidak melulu hanya politik namun canda akan dilontarkan oleh Pak Jo, singkatnya sebagai Diplomat karier yang kenyang asam garam dunia diplomasi, membuat nyaman lawan bicara dan menghangatkan suasana antara masyarakat dengan seorang Duta Besar adalah suatu keharusan.

Saat itu sebagai mahasiswa master ilmu hubungan internasional, saya sangat beruntung bisa menyaksikan bagaimana ujung tombak perjuangan diplomasi Indonesia di luar negeri beraksi. Salah satunya adalah Pak Jo. Alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada (UGM) ini merupakan salah satu tokoh yang mampu menjadikan Ilmu Diplomasi yang dipandang formal dan kadang menjemukan diolah layaknya seni. Bagaimana cara beliau menjalankan seni tersebut akan saya coba uraikan satu persatu:

Pertama, mengubah mindset atau persepsi dengan media. Semenjak menjadi Duta Besar di Rusia, frekuensi kegiatan-kegiatan di lingkungan baik itu yang bersifat ilmiah maupun kunjungan negarawan meningkat tajam. Disinilah letak kekuatan media yang menjadi faktor penting untuk merubah mindset sebagian besar rakyat Indonesia yang tetap memandang Rusia sebagai negara tertutup dan asing. Pak Jo banyak mengundang tokoh-tokoh nasional di bidang jurnalistik maupun media untuk  meliput dan mengabarkan berita terbaru mengenai Rusia. Pada pelaksanaan APEC dan G20 yang diselenggarakan di Rusia tahun 2013 beberapa kali wartawan baik media nasional maupun daerah diundang  untuk menulis dan menceritakan betapa indahnya kota-kota di Rusia dari Moskow, Saint Petersburg, Kazan hingga Vladivostok untuk diliput dan diberitakan gaungnya ke Indonesia. Tujuan utamanya tidak lain adalah mengundang kita untuk semakin tertarik dan mengenal seperti apa Rusia saat ini.

Kedua, berkarya. Dimanapun ditempatkan nampaknya bukan menjadi halangan bagi Pak Jo untuk berkarya. Bagi beliau menjadi Diplomat merupakan panggilan jiwa sehingga harus dikerjakan sepenuh hati. Mengalirnya kegiatan seperti APEC, G20, ASEAN Youth Summit dan beberapa kunjungan negarawan lain yang tidak bisa saya ungkapkan satu-persatu karena cukup banyak. Kegiatan-kegiatan ini dari melibatkan pemimpin negara sampai elemen masyarakat Indonesia di Rusia yang terjadi dalam upacara bendera pada perayaan 17 Agustusan mampu berjalan dengan lancar tanpa halangan. Selain koordinasi yang baik antara Pak Jo dan jajarannya, juga dibutuhkan kerendahan hati untuk saling melayani rakyat Indonesia tanpa memandang status maupun latar belakangnya.

Ketiga, promosikan Indonesia. Hubungan  Indonesia dan Rusia yang sempat terputus selama beberapa dekade menyebabkan  minimnya informasi mengenai Indonesia di tanah Rusia, padahal Indonesia dikenal salah satunya sebagai negara dengan alam yang eksotis bahkan disebut surga bagi para pelancong mancanegara. Pak Jo menyadari sepenuhnya akan kekurangan ini sehingga hampir di setiap kesempatan beliau mengundang para tamu maupun pengusaha Rusia yang untuk berkunjung ke Indonesia. Pada beberapa kesempatan beliau juga mengajak jurnalis asing untuk berkunjung ke tempat-tempat pariwisata di Indonesia. Salah satu buah karyanya adalah saat petenis jelita asal  Rusia, Maria Sharapova berkunjung ke Candi Borobudur. Kegiatan yang diliput oleh majalah Conde Nast Traveller ini merupakan salah satu gebarakan untuk mempromosikan Indonesia sebagai tujuan pariwisata utama bagi masyarakat Rusia yang memang gemar melancong ini.

Keempat, Optimis. Citra Rusia di mata Indonesia tidak selamanya selalu positif, pada beberapa kesempatan saat bercengkrama dengan mahasiswa ataupun negarawan, Pak Jo selalu bersikap optimis bahwa Rusia adalah negara yang penting bagi Indonesia. Bahkan dirinya acap kali menganalogikan “Sahabat Lama Era Baru” untuk menggambarkan hubungan Indonesia-Rusia dan “Pionir” bagi mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menimba ilmu di negeri Beruang Merah. Dengan kata lain beliau yakin bahwa Rusia adalah negara yang patut diperhitungkan dan sudah sepantasnya menjadi salah satu ornamen penting dalam memperkaya arsitektur kawasan Indonesia .

Terakhir dan tak kalah penting yaitu peran mahasiswa. Latar belakangnya yang pernah menjadi aktivis saat masih mengeyam pendidikan di UGM membuat Pak Jo sangat memperhatikan keberadaan mahasiswa dimanapun dirinya ditempatkan. Satu hal penting yang selalu saya catat adalah hampir di tiap pertemuan atau kegiatan, Pak Jo selalu memberikan tempat khusus bagi mahasiswa baik dalam hal diskusi maupun perkenalan singkat. Meskipun jumlah mahasiswa Indonesia di Rusia masih sedikit, hal itu tidak membuat beliau bosan menceritakan betapa sederhana dan kerasnya kehidupan mahasiswa Indonesia di Rusia kepada siapapun yang berkunjung ke Rusia. Terakhir karena beberapa faktor, salah satunya adalah lobi dari beliau beserta segenap staf KBRI Moskow, mahasiswa Indonesia di Rusia bisa memperoleh bantuan beasiswa tambahan dari Lembaga Penyaluran Dana Pendidikan (LPDP). Hal ini sangat membantu proses belajar dan menjadi daya tarik baru bagi mahasiswa Indonesia untuk menuntut ilmu di Rusia. Bisa dikatakan, beliau sangat sadar peran mahasiswa yang kuliah di luar negeri sangat penting untuk dilibatkan sebagai calon-calon agen perubahan bagi kemajuan bangsa dan negara di masa depan.

Dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan, tidak terasa tiga tahun lebih Pak Jo berkarya di KBRI Moskow. Saat ini memang masih ada yang belum bisa dicapai oleh hubungan Indonesia -Rusia. Namun setidaknya, bagi saya banyak catatan penting yang sudah ditorehkan oleh beliau semenjak penempatannya di Rusia. Tahun 2016 adalah tahun terakhir beliau di Moskow, bahwasanya Pak Jo merupakan sosok Dubes yang telah menorehkan prestasi dan warna tersendiri bagi hubungan bilateral Indonesia dan Rusia. Kemanapun beliau akan berkarya kemudian, bagi saya dan beberapa teman-teman mahasiswa lain yang telah kembali ke tanah air, belajar dari sosok Djauhari Oratmangun telah memperkaya wawasan kami dan akan menjadi bekal berharga bagi kemajuan Bangsa Indonesia.

Quotes:

“Djauhari Oratmangun is one of the best diplomat in town”(Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia)

*Adri Arlan Sinaga (Alumni Peoples’ Friendship University of Russia) saat ini bekerja di Pusat Kebudayaan Rusia, Jakarta.

Artikel Lepas, Berita dan Artikel

Leave a Reply