Diskusi Online PERMIRA Maret 2016 – FEMINISM dan Eksistensi Ketidaksetaraan Gender

27March 2016
by PERMIRA RUSIA

20 Maret 2016 Departement Hubungan Internasional Melaksanakan Diskusi Online live streaming youtobe dengan bekerja sama dengan PPI Belanda.Bertolak dari perayaan 8 Maret Hari Wanita se-Dunia yang dirayakan dengan sangat spesial di Rusia, dan menjelang Hari Kartini yang dirayakan setiap tahunnya di Indonesia pada 21 April 2016, PERMIRA kembali mengadakan Diskusi Ilmiah bertemakan “Feminisme” dengan narasumber :

  1. Juniar L.Umagapi

Mahasiswa Master Political Analysis and Public Policy di National Research University HSE, Rusia.Selain aktif dalam berorganisasi, beliau tidak lama ini terpilih menjadi Pemenang Runner-Up dalam Kompetisi Esai “The Impact of Women’s Representation in Politics and Society towards Cultural and Religion Perspective” yang diselenggarakan oleh Indonesian Scholars and Research Support Foundation Program. Saat ini, beliau aktif mengurusi website kampusnya di Moscow, Rusia, terlibat secara aktif sebagai jurnalis Online Magazine untuk International Students www.readsquare.ru, dan menjadi volunteer aktif bagi anak-anak dengan gangguan Autisme di Rusia.

  1. Hafida Fahmiasari

Mahasiswa Master of Science di Technische Universiteit Delft yang pernah menjalankan beberapa proyek dan berinteraksi dengan masyarakat di beberapa belahan dunia seperti di Kampala, Uganda, Negara Kawasan Baltik, Paris dan Belanda. Beliau juga pernah memenangkan beberapa penghargaan bergengsi dan terakhir menjadi runner-up dalam Olympiad of Maritime Innovative Research di UNESCO, Paris. Saat ini beliau banyak menghabiskan waktunya sebagai Graduation Project Intern di Port of Rotterdam International.

Moderator pada diskusi kali ini adalah Agnes Harvelian II, seorang Mahasiswi Master of Law di Far Eastern Federal University, Vladivostok, Rusia.Hasil diskusi tanggal 20 kemarin mengajarkan kita tentang bagaimana perspective orang-orang tentang peranan wanita di bidang-bidang sectora seperti tekhnik dan politik. Seperti Kata salah satu pembicara Hafida yang mengambil jurusan tekhnik di Belanda.

“I did not become an engineer because I was a feminist”

“I became a feminist because I am an engineer”

“I didn’t start out interested in, or even aware of, the whole “women in STEM” issue. I

found it when I got here”

Permasalah wanita di bidang teknik karena usia, kurangnya panutan,kurangnya penagalaman dan norma sosial khususnya di di easte world. Untuk meningkatan peranan wanita di bidang tekhnik juga pendidikan untuk wanita dan mendidik anak perempuan usia sekolah tentang apa itu ilmu tekhnik karena gadis-gadis yang tahu tentang ilmu tekhnik bisa menjadi insinyur.

Peranan wanita di politik

Gender isu menjadi isu hangat di era modern saat ini, di mana perkembangan zaman dan teknologi para perempuan di Indonesia lebih mengerti tentang tugas dan peranannya di bidang-bidang tertentu di masyarakat dan pemerintah selain hanya menjadi ibu dan mengurus suami. Isu perdagangan manusia, kekerasan buruh dan tenaga kerja wanita di luar negeri, pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga hanyalah beberapa kasus yang menjerumuskan posisi wanita masih menjadi kelas kedua masyarakat.

meskipun akhir-akhir ini telah ada pengakuan dari kebutuhan untuk peran perempuan dalam politik, kebijakan ini masih diterapkan dengan setengah hati, dan tidak dapat dimaksimalkan. Karena itu, tidak mengherankan bahwa jumlah perempuan memasuki dunia politik masih sangat terbatas. Budaya adalah penghalang untuk akses perempuan terhadap politik. Kendala lain adalah pandangan yang cenderung lebih memilih uang daripada politik, dan bukan melihat siapa yang bisa menjadi pemimpin terbaik.

Masalahnya juga bahwa tidak banyak orang ingin bergabung politik. Politik membutuhkan seseorang yang memiliki semangat benar-benar kuat dan cukup pintar untuk mempengaruhi orang lain, dan banyak wanita merasa tempat itu tidak cocok untuk mereka. Banyak orang percaya bahwa politik membuat orang berubah menjadi tidak bermoral dan lingkungan akan membuat mereka untuk melakukan sesuatu yang buruk dalam hidup mereka. Itulah mengapa wanita tidak ingin mengambil kesempatan ini dan merasa tidak cocok untuk mereka.

Budaya pernikahan juga mempengaruhi representasi perempuan di politik di Indonesia, misalnya pendidikan adalah aspek yang paling penting bagi karir anda di masa depan.Pendidikan tinggi yang anda raih juga akan mempengaruhi jenis pekerjaan apa yang anda dapat nantinya dan tentu saja kemampuan juga mempengaruhi. Banyak wanita tidak memiliki percaya diri untuk melanjutkan studi mereka karena mereka pikir itu akan membuang-buang waktu  karena pada akhirnya semua perempuan akan menjadi ibu rumah tangga dan tugasnya adalah merawat anak-anak dan suami, membersihkan kamar dan sebagainya. Jadi  di pikran mereka apa gunanya membuang waktu jika nantinya berkhir menjadi ibu rumah tangga. Itulah  pendapat beberapa wanita terutama di kota kecil. Masalah lain juga jika Anda selalu belajar dan mencapai pendidikan tinggi nanti akan susah jadinya untuk mendapatkan suami dan menikah, takutnya akan menjadi perawan tua seumur hidup.

Seringkali pandangan atau penafsiran agama yang tidak tepat menjadi salah satu faktor pendorong pernikahan anak. Terdapat pandangan bahwa ketika perempuan sudah mengalami menstruasi, ia sudah pantas untuk dinikahkan. Pandangan keliru lainnya adalah pernikahan dini merupakan jalan untuk mengurangi angka perzinaan. Bagi Zumrotin, pandangan-pandangan ini keliru karena tidak ada korelasi antara usia pernikahan dengan perzinaan. Berapapun usia seseorang, kemungkinan bagi manusia untuk melakukan perzinaan sama besarnya. Padahal dampak dari pernikahan dini juga sangat mempengaruhi aspek kesehatan dan pendidikan itu sendiri (Jurnal Perempuan, Zumrotin Susilo)

Demokrasi tanpa partisipasi perempuan bukanlah demokrasi yang sesungguhnya, Perempuan memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan masyarakat. pemberdayaan perempuan sangat penting di seluruh dunia. Tanpa bantuan dan kerjasama dari wanita tidak adalah semacam politik yang adil di dunia. Pemerintah dari banyak negara telah menyediakan kursi terutama bagi perempuan untuk ikut pemilihan dan membuat kehadiran mereka di akui dalam gerakan politik. Semakin banyak perempuan semakin aktif dalam politik untuk membuat kehadiran mereka lebih efektif dalam kata politik.

Perempuan-perempuan hebat di Indonesia seperti mantan presiden Megawati Soekarno Putri, Tri Rismarini walikota Surabaya, Khofifah Indar Parawansa, Yeni Wahid, Sri Mulyani adalah contoh sedikit perempuan-perempuan hebat di politik. Tidak bisa di pungkiri perempuan-perempuan di Indonesia sekarang juga mampu berkarya di dunia internasional seperti Dian Pelangi di dunia fashion dan atlet-atlet wanita berprestasi seperti baru-baru ini atlet bulu tangkis Debby Susanto yang menjuarai ganda campuran all-England. Tugas kita semua perempuan-perempuan hebat Indonesia untuk bisa di akui dengan kemampuan dan prestasi kita baik national maupu internasional.

 

 

Berita dan Artikel, Berita PERMIRA

Leave a Reply