Puisi dan Hal-hal yang Intuisi

3May 2016
by PERMIRA RUSIA

Oleh Iwan J. Kurniawan

Iwan_J_Kurniawan

DALAM dunia kesusastraan, puisi hadir sebagai bentuk ekspresi atas sesuatu yang dilihat, dirasakan, dan diilhami. Puisi tidak sekadar omong kosong (non-sense). Sebagaimana, seorang lelaki membacakan puisi untuk kekasihnya. Atau, seorang oma membacakan hikayat untuk cucuknya.

Puisi hadir sebagai sebuah cara seorang penyair mengekspresikan dirinya. Tanpa puisi tidak mungkin bait demi bait kalimat tersusun apik dalam Sumpah Pemuda. Puisi sebagai bagian dalam dunia seni memiliki kadar tinggi. Itu tergantung pada kedalaman makna dan pesan yang ingin disampaikan lewat medium ini.

Kini, banyak penyair bermunculan. Baik lewat surat kabar, media sosial, maupun komunitas. Sayang, masyarakat Indonesia belum begitu peka terhadap puisi. Itu berbeda dengan masyarakat Finlandia, Jerman, atau Rusia.

Di Rusia, penyair A.S Pushkin, misalnya, begitu dihormati. Sampai-sampai, namanya selalu ada di setiap tempat. Mulai dari nama institusi, stasiun kereta bawah tanah, kafe, kapal tempur, museum, hingga toilet. Ini memberikan nilai penting tentang kepedulian pemerintah Rusia terhadap jasa seorang penyair.

Begitu pula dengan seorang novelis Inggris, Lewis Carrol. Carrol terkenal lewat novelnya “Through the Looking-Glass, and What Alice Found There” (1871). Ini merupakan karya sekuelnya “Alice’s Adventures in Wonderland” (1865). Carrol pun juga sangat dibanggakan pemerintah di sana.

Pushkin dan Carrol menghadirkan karya yang melampaui jaman mereka sendiri. Masyarakat dunia pun sangat menghargai buah karya pengarang tersebut. Tentu saja, tidak semata-mata non-sense. Ada nilai-nilai filosofis yang dihadirkan secara tersirat atau pun tersurat dalam setiap karya.

Tak diayal, puisi sebagai bahasa jiwa punya nilai idealis tinggi ketimbang komersial. Hal menarik pula bila kita bisa memahami suatu puisi. Lalu, mengkaji tema, rima, dan pesan filosofis tanpa unsur menghakimi ala seorang hakim.

Dalam perjalanan puisi di Indonesia, tanpa kita sadari; banyak penulis dan sastrawan yang dicap kiri. Mereka pun diasosiasikan beraliansi pada golongan sosialisme. Dalam KBBI, termaktub kata “kiri” (politik).

“Kiri” berarti suatu sebutan kepada partai (golongan) berhaluan sosialisme. Yang lama menghendaki perubahan secara radikal (tentang politik, partai, dan sebagainya). Sebutan kiri pula berarti orang-orang yang condong ke paham Komunis.

Sejak peristiwa 30 September 1965, kita tahu, semuanya berubah. Sendi-sendi kebudayaan menjadi karut-marut, baik dalam lembaga pemerintahan maupun kemasyarakatan (komunitas). Para penulis yang dicap ‘kiri’ pun diberangus, termasuk ditahan, dipenjara, dan wajib lapor.

Salah satunya adalah sastrawan kawakan Pramoedya Ananta Toer. Ini belum termasuk para sastrawan stateless

(tanpa kewarganegaraan), baik yang tinggal China, Prancis, Belanda, maupun Rusia di era 60-an hingga 80-an.

Semuanya berubah setelah era Reformasi dengan lengsernya Presiden Soeharto. Namun, itu tidak menghilangkan stigma negatif terhadap para sastrawan yang dilabeli kiri oleh sistem, koncoisme, komunitas, dan dari suatu golongan tertentu.

Tentu saja, tulisan ini tidak berarti menilai siapa yang kiri dan siapa yang kanan. Siapa yang pro-pemerintah dan siapa yang anti-pemerintah. Namun, dalam pemahaman saya yang kini tinggal di Rusia, arti ‘kiri sebagai perubahan ke kehidupan yang setara’.

Sayang, jika keberadaan kata ‘kiri’ di Indonesia masih diidentikan dengan paham Komunis. Di Rusia sendiri, keberadaan partai Komunis di negeri bekas Uni Soviet ini, kini sudah berganti. Di Parlemen Rusia, kini cuma sekitar 15 persen suara.

Mobil-mobil bermerek dan berkelas lalu lalang di jalanan bebas hambatan. Pakaian model terbaru pun bergelantungan di mal-mal. Makanan siap saji khas Amerika begitu menjamur di kafe-kafe. Semuanya ada di Moskow. Termasuk, rokok bermerek asal Kudus, Jawa Tengah.

Tak dimungkiri, kehadiran Presiden Vladimir Putin sebagai Ketua Partai Rusia Bersatu memberikan perubahan. Sejak memimpin Negeri Beruang Merah ini, ia telah membawa Rusia sebagai negara ‘terbuka’. Terutama, bagi para pelajar dari berbagai ‘negara ketiga’ untuk belajar di Rusia.

“Ideologi di Rusia sudah berubah total. Kini, Partai Komunis hanya menempati 15 persen suara di parlemen Rusia. Partainya Putin sebagai pemenang pemilu (dulu) menunjukkan Rusia lebih demokrasi, toleran, dan terbuka,” ujar Nugraho Setyadie, seorang Diplomat Senior yang pernah bertugas di KBRI Moskow, saat berbincang dengan penulis.

Keberadaan kata kiri juga tak terlepas dari para penulis yang memang berhaluan kiri pada jamannya. Sejarah mencatat pada 1 Oktober (setelah gerakan 30 September 1965), para sastrawan dan penulis Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) terbang ke Beijing.

Itu tak lain atas undangan Pemerintah Tionghoa. Mereka di antaranya, Utuy Tatang Sontani, Kuslan Budiman, Rusdi Hermain, dan Soerjana (wartawan Harian Rakjat). Utuy sendiri kita tahu bahwa ia berjasa dalam menjunjung bahasa Indonesia di Negeri Beruang ini.

Pada 1971, sebagian seniman yang tinggal di Beijing pun memutuskan untuk hijrah ke Moskow. Selama di perantauan, Utuy, misalnya, sukses menyusun empat buah novel dan tiga otobiografi hingga ia meninggal pada 1979. Salah satu novelnya yang tersohor, yaitu “Kolot Kolotan”. Sedangkan salah satu otobiografinya adalah “Di Bawah Langit Tak Berbintang”.

Sementara itu, penyair W.S Rendra pun pernah datang ke Moskow. Ia diundang untuk menghadiri Festival Pemuda dan Mahasiswa, pada 1957. Utuy dan Rendra merupakan contoh pesastra kondang. Dua nama ini kerap dan masih diperbincangkan hangat meski mereka sudah di alam lain.

Kini, keberadaan Moskow sebagai destinasi pendidikan merupakan salah satu yang paling diminati masyarakat Indonesia. Pertanyaannya; apakah bersekolah di Rusia kini diidentikkan dengan ‘kekiri-kirian’?

Jawabannya; tentu tidak! Perubahan dan jaman telah bergeser. Mahasiswa yang memilih untuk bersekolah di Rusia memiliki jiwa ketangguhan. Pertama, mahasiswa berani mengambil resiko untuk belajar budaya baru. Kedua, mahasiswa berani mempromosikan budaya Indonesia ke masyarakat Rusia.

Dan, ketiga, mahasiswa berani untuk maju dan melihat Tanah Air dari perspektif dunia. Stigma negarif tentang Rusia yang identik dengan komunis itu memang kuat di masa lalu. Namun, kini, Rusia adalah negara yang menjunjung tinggi pluralisme!

Terdapat 336 mahasiswa/i Indonesia di Rusia. Mereka tersebar di berbagai kota. Kehadiran mahasiswa sebagai duta bangsa itu menjadi penting. Mahasiswa di Rusia ini hanya 5 persen dari jumlah mahasiswa yang belajar di Eropa.

Keberadaan mahasiswa sebagai ujung tombak kaum cendekiawan merupakan hal mutlak. Mahasiswa adalah duta budaya bangsa. Ini memang sejalan dengan jiwa Ki Hadjar Dewantara, seorang tokoh pelopor pendidikan Indonesia.

Sudah waktunya, bangsa Indonesia tajam melihat ke depan. Tidak menjadikan perbedaan sebagai pemisah. Ini berguna agar kelak suatu pagi kita melihat; sang Garuda sudah sejajar mengepak sayapnya bersama si Elang Berkepala Dua.

Iwan J. Kurniawan,
Penyair, ia telah melahirkan buku kumpulan puisi “Tapisan Jemari” (2005) dan “Rontaan Masehi” (2013). Kini, ia sedang belajar Bahasa dan Sastra Rusia di Kutafin Moscow State Law University, Rusia.

Artikel Lepas, Berita dan Artikel

Leave a Reply