Mengapa Nuklir? “Menjawab Mitos Teknologi Nuklir”

4May 2016
by PERMIRA RUSIA

Ketika masyarakat anti nuklir mengekspresikan ketidaksetujuan mereka terhadap nuklir, mereka biasanya berdebat tentang bahaya radiasi, risiko penyebaran senjata nuklir, limbah nuklir, mahal dan tidak ada alasan apapun untuk menyatakan bahwa mereka membutuhkan energi nuklir. Namun di sisi lain, tak satu pun dari alasan-alasan tersebut memiliki dukungan ilmiah yang kuat. Jika Negara-Negara di seluruh dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Finlandia, Rusia, China, India,Uni Emirat Arab dan Korea Selatan beranggapan sama seperti yang masyarakat anti nuklir lontarkan, maka tidak akan mungkin Negara-Negara tersebut melanjutkan program pembangkit listrik tenaga nuklir baru untuk memasok kebutuhan energi mereka.

Pernyataan Martin Nicholson di atas tentu semakin membuat penasaran, jadi apa sebenarnya yang menjadi permasalahan mereka tetap keukeuh dengan pendirian menolak nuklir? Padahal sudah terbukti bagaimana kondisi kemandirian energi Negara – Negara yang sumber pembangkit listriknya dari energi nuklir.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, pada kesempatan ini terlebih dahulu akan menjawab 4 dari sekian banyak mitos mengenai teknologi nuklir. Berikut penjabarannya :

1. Tidak aman bekerja atau bertempat tinggal di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fakta : Reaktor nuklir untuk PLTN didesain sedemikian rupa untuk menghalau radiasi keluar ke lingkungan dan juga telah terbukti apabila anda berdiri di luar sekitar PLTN, anda hanya terpapar kurang dari 0,01 mSv selama 1 tahun. Bandingkan dengan beberapa aktivitas manusia yang ternyata jauh lebih besar menerima paparan radiasi, seperti perjalanan lintas Negara menggunakan pesawat terbang akan menerima radiasi 0,02 – 0,05 mSv dan bahkan penelitian juga menunjukkan bahwa pilot dan kru penerbangan terkena radiasi bisa mencapai 4,6 mSv per tahun. Begitupula pada saat seseorang merima sinar-X di dada untuk foto rontgen akan menerima 0,04 mSv (*sumber : United States Environmental Protection Agency) Ilustrasi di atas memberikan informasi bahwa jika radiasi dapat dikendalikan dan tidak melebihi ambang batas aman yang ditetapkan maka tidak perlu takut terkena radiasi, sebab secara alami manusia akan menerima sejumlah radiasi dari lingkungan. Sebagai contoh, Indonesia memiliki Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) yang letaknya satu kompleks dengan reaktor nuklir Kartini, Yogyakarta. Reaktor nuklir Kartini terletak di area padat penduduk, sekitar 20 Km dari Gunung Merapi. Meskipun Yogyakarta pernah diguncang gempa pada 2006 sebesar 6,2 skala Richter dan erupsi merapi 2010, namun sampai dengan sekarang tidak ada radiasi yang melebihi batas aman di sekitar reaktor nuklir tersebut.

2. Energi nuklir energi “tidak bersih” terhadap lingkungan Fakta : Nuklir adalah salah satu sumber yang menghasilkan energi sangat besar, namun tidak menghasilkan gas berbahaya seperti COX, SOX, maupun NOX . Udara, tanah, air di sekitar PLTN bebas dari polutan berbahaya sehingga di sekitar PLTN merupakan lingkungan nyaman untuk hidup manusia dan satwa. Pada tahun 2012 dilaporkan bahwa fasilitas nuklir di Amerika Serikat membantu mencegah CO2 (karbon dioksida) terlepas ke udara sebanyak 570 juta ton, jumlah ini setara dengan karbon dioksida yang dihasilkan 110 juta mobil.

3. Setelah kejadian di Fukushima tidak akan ada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) baru selama 30 tahun kedepan. Fakta : Menurut World Nuclear Association, saat ini terdapat 437 reaktor nuklir beroperasi di 31 Negara ditambah Taiwan yang menghasilkan lebih dari 380 GWe. Tidak benar bahwa setelah peristiwa Fukushima dunia tidak melirik nuklir sebagai sumber energi. Fakta di lapangan menyebutkan setidaknya 60 reaktor nuklir baru di 15 Negara sedang dalam proses konstruksi. Sebagian besar reaktor nuklir yang masih dalam proses pembangunan ini terdapat di Asia, terutama Cina. Cina sangat menyadari, perkembangan perekonomian yang melesat sangat cepat harus diimbangi dengan pasokan energi yang besar, namun juga tidak melupakan pembangkit energi harus berwawasan lingkungan.

Untitled

Untitled

4. Reaktor nuklir bisa meledak atau menjadi senjata layaknya bom atom Fakta : Sangat tidak mungkin reaktor nuklir dapat meledak seperti bom atom mengingat bahan bakar reaktor nuklir U-235 hanya berkisar 1 – 5 %. Sedangkan untuk menjadi bom dibutuhkan U-235 hampir murni (dengan konsentrasi lebih dari atau sampai dengan 90%). Secara teori, konsentrasi U-235 lebih dari 20% diperkirakan bisa terjadi “weapon’s grade”, namun, sekali lagi dengan ketatnya pengawasan internasional terhadap fasilitas nuklir dan mobilitas zat radioaktif di dunia maka sangat kecil kemungkinan untuk pihak-pihak yang sengaja ingin mengembangkan nuklir mencapai “weapon’s grade”.

Beberapa mitos atau kabar tidak benar di masyarakat mengenai teknologi nuklir menyebabkan pobhia nuklir semakin berkembang. Kesan pertama yang terlanjur buruk terhadap nuklir sebagai bom di Nagasaki dan Hiroshima tentu tidak mudah untuk mengubahnya. Oleh karena itu perlu diinformasikan secara menyeluruh mengenai teknologi ini kepada masyarakat.

“Nuclear is not the solution, but that there is no solution without nuclear.”

Dwi Rahayu

National Research Nuclear University MEPhI

[email protected]  +7 967 156 43 84

Artikel Lepas, Berita dan Artikel, Berita PERMIRA

Leave a Reply